Feed on
Posts
Comments

1. Film “Wall-E”

Emang Pixar paling pol dah kalo bikin film animasi.

Ceritanya sangat lucu, dan paling penting, hikmah yang bisa dipetik itu keren banget. Banyak juga filosofi-filosofi yang disisipin di film ini. Meski setengah bagian awal ga pake dialog, film ini adalah film yang lengkap. Komplit. Ga cuman haha-hihi, tapi juga bikin kita belajar. Dengan tanpa merasa digurui, tentunya.

Yang paling guah suka adalah pas adegan Wall-E dan Eve ini bersahut-sahutan.

“Wall-E?”
“Eeeevaaaa!”

Buat kamu-kamu yang lagi stres, cocok deh nonton ini. Dijamin ketawa-ketiwi.

2. Novel “Ketika Daun Bercerita”

Ketika guah udah sangat bosan dengan becandaan ‘kuping berdarah-darah’, atau ‘mulut bebusa’, guah menemukan buku ini sangat menghibur. Cerita yang disampaikan sangat unik, karena mengambil sudut pandang sebuah pohon. Bahasa yang digunakan pun sangat oke, dan mengalir.

Diperlukan banyak orang lagi yang seperti Maradilla Syachridar, untuk menggebrak dan membangunkan kita dari bayang-bayang kejenuhan.

Salut. Two thumbs up.

3. Lagu “Project Pop dan Tere”

Lagu Project Pop yang baru kocak ya? Ini nih liriknya.

Andai aku Pasha Ungu
semua wanita kan memburuku
Bila aku Ariel Peterpan
kau yakin ngefans karena urang keren

Sexy badannya Mulan Jameela
cantiknya dia seperti aku
Giring Nidji sahabat aku
dekat denganku, dialah aku

Tapi kenyataan aku bukan siapa-siapa
kuingin engkau mencintaiku apa adanya

Ku bukan superstar kaya dan terkenal
Ku bukan saudagar yang punya banyak kapal
Ku bukan bangsawan, ku bukan priyayi
Ku hanyalah orang yang ingin dicintai

Andai ku Letto wis pasti aku wong jowo
Tapi kenyataan aku bukan siapa-siapa
kuingin engkau mencintaiku apa adanya

Ku bukan superstar kaya dan terkenal
Ku bukan saudagar yang punya banyak kapal
Ku bukan bangsawan, ku bukan priyayi
Ku hanyalah orang yang ingin dicintai

Kocak kan? Hehe.

Selain itu, entah kenapa, tiba-tiba aja guah suka lagu lama Tere, yang judulnya Tak Ingin Usai. Kenapa ya? Hm. Aneh, padahal lagu ini udah lama banget ga guah denger, tapi tiba-tiba suka guah dendangkan tanpa sadar. Aneh.

4. Jalan, dan berkumpul

Sabtu kemarin, guah ke kampus (UI Depok), dan ke rumah teman di daerah Cinere. Teman itu bernama Risma, dan dia akan pergi ke Swedia buat ngelanjutin S2-nya. Jadilah kami ke sana, ngumpul, dan menghabiskan waktu. Dan numpang makan juga, tentunya. Hehe.

Di saat itu, lagu Tere yang Tak Ingin Usai bermain di kepala guah.

Karna sesungguhnya diriku pun tak ingin usai
Tak ingin akhiri semua ini
Meski mungkin sulit, diriku
Tetap tak ingin usai
Tak ingin akhiri semua ini

Maka hiruplah sejenak dapatkah coba kuberi
Agar aku terus bersamamu
Jangan lagi ada amarah
Tidakkah kau mengerti?
Bahwa ku tak ingin, tak ingin usai

Ah, sekarang guah tau kenapa guah suka lagu ini.

Merdeka? Sudah?

Apa kita sudah merdeka?

Dari penjajah sudah.

Dari kemiskinan belum.

Dan beberapa dari kita masih terjajah dalam gaya penulisan. Tapi tau apa guah tentang gaya penulisan. Hehe.

Selamat Ulang Tahun, Republik Indonesia. Maaf, terlambat.

Poster Film Jadul

Waaaa. Gile. Ternyata guah udah semingguan ga ngupdate blog.

Kerjaan di kantor lagi numpuk. Naskah kedua lagi ngebut. Badan lagi ga bisa diajak kompromi. Dan, waktu guah banyak tersita nonton serial f.r.i.e.n.d.s yang diulang lagi dari season 1 di Star World! My favorite TV show is being re-run! Yihii!

Anyhoo, kali ini guah mau posting poster film-film Indonesia yang jadul-jadul. Judulnya lucu-lucu. Apalagi judul di posternya kadang pake bahasa Inggris. Oke, biar ga panjang lebar lagi, langsung aja kita saksikan poster-posternya. Enjoy! ^^

5 Deadly Angels. Judul aslinya: Lima Cewek Jagoan. Kayaknya dulu guah pernah nonton nih di TVRI. Kayak Charlie Angels, cuman ini versi keroyokannya.

Lady Terminator. Judul aslinya: Pembalasan Ratu Pantai Selatan. Jauuuuh bener ya? Yang ga nahan tag line-nya itu lho. First she mates, then she terminates. Yaoloo. Ntar kalo guah bikin film, tag line-nya: Pertama mencret, terus lengket.

Jungle Virgin Force. Judul aslinya: Perawan Rimba. Hm. Jungle = Rimba? Oke lah. Virgin = Perawan? Bener lah. Force? Kok jadi kayak satuan pleton angkatan darat gitu ya?

Kekuatannya: Kalo listrik mati, dia menahan biar komputernya ga rusak. Si Stabiliser. Guah ga tau nih judul aslinya apaan. Judul yang aneh. Kalo kita ke loket bioskop, terus penjaga loketnya nanya:

Penjaga: Mau nonton film apa?
Guah: Stabilizer, Mbak.
Penjaga: Oo, maap, Dek. Toko Ko Aliong yang jualan komputer adanya di sebelah.

Dan, inilah film yang judulnya paling oke menurut guah. Jeng jeng.

Ferocious Female Freedom Fighters. Gile. F4 cuy. Oh baby baby, my baby baby (bernyanyi sambil benerin poni). Judul aslinya ga kalah keren: Cewek-cewek Bergairah! Oooh. Uoooh. Ooooh. OMG. Ceritanya tentang apa ya? Ah, ngebayanginnya aja guah udah bergairah duluan. Huehehe.

———

Nah, sekian dari guah. Bai de wey, kaos DDK sedang menuju ke rumah pemenang kuis. So, enjoy the shirt, folks! ^^

Extended Version

Lagi jengah dengan kerjaan kantor, jadinya guah kemarin iseng-iseng mengetik cerita ini. Lagi jengah juga dengan mengetik cerita PeLit yang masih ter-pending di rumah. Akhirnya, guah kembali menulis fiksi. Buat kamu yang udah baca TMOK (The Maling of Kolor), pasti tau cerita ini. Sebuah extended version, begitu Raam Punjabi menyebutnya. Enjoy! ^^

———

Bis no 12 itu berhenti di terminal.

Bis itu dengan selamat sampai di tujuan, sebuah kampung di sebuah kabupaten di Jawa Barat. Seorang pemuda turun berbarengan dengan 40 orang lainnya yang memiliki muka dengan tingkat kekucelan yang sama. Semua sama, semua lelah. Pemuda itu mengendus-endus, mencoba menikmati udara segar di terminal itu sampai ia menyadari bahwa di dekatnya ada kuda yang sedang buang hajat.

“Baguuuuus,” gerutunya.

Ia lalu merenggangkan pinggangnya karena sepanjang perjalanan tadi ia berdiri dan di sebelahnya berdiri pula wanita gemuk yang menjajah spasinya. Tadinya pemuda itu ingin melawan, tapi melihat si Ibu memiliki tato dengan tulisan Best Mom Ever, membuat nyalinya ciut. Menurut pemuda itu, meski tatonya bertuliskan sesuatu yang so sweet, tapi pada kenyataannya orang yang memakai tato biasanya berasal dari komunitas yang memiliki tenaga berlebih untuk memukul kepala orang.

Tapi, tiba-tiba…

“Copet-copet!” Ibu bertato itu berteriak dengan toanya sebagai aktualisasi atas tindak kriminal yang baru saja diterimanya.

“Mana, Bu? Mana?” Pemuda itu dengan sigap berlari mengejar si copet sebagai aktualisasi niat baiknya.

Si Copet berlari kencang. Terus, dan terus. Tak kenal lelah. Ia melompati beton-beton di sisi terminal. Melewati beberapa dokar yang kudanya baru saja buang hajat setelah sebelumnya si Kusir memberi makan gado-gado.

Hiiiiiiieeeeeekkk! (suara kuda, tapi kok malah kayak suara anak kelindes bajaj ya?)

Ceprot!

“Ya ampun. Kecepirit ya, Daniel?” Si Kusir bertanya kepada kudanya yang ia beri nama Daniel. Sebuah ketimpangan yang cukup jelas karena ia memberi nama anaknya sendiri Prihatin.

Si Copet yang awas berhasil menghindari ranjau darat itu. Tapi, sial bagi si Pemuda, ia gagal.

Ceprot!

“Yaiks!” jerit si Copet dari jauh.

“Awas yah kamuh!” teriak si Pemuda.

“Kejar saja kalau bisa! Yeeee!” ledek si Copet sembari melihat ke arah pemuda itu. Keasikan meledek, si Copet gagal melihat pantat kerbau yang sedang melintas. Kerbau itu sendiri sedang cuti dari syuting sinetron striping, berjudul Upik Kebo dan Laura. Si Copet terjatuh. Si Pemuda menyusul. Si Kerbau ternoda. Pemuda itu dengan cekatan menangkap si Copet, dan mengambil tas itu kembali.

“Ini, Bu, tasnya. Coba dicek dulu.”

“Aduuuuh. Makasi ya, Dek. Kamu ini baik sekali. Jarang lho ada orang sebaik kamu di jaman sekarang.”

“Hehehe. Makasi, Bu.”

“Ngomong-ngomong, nama kamu siapa ya?”

“Nama sayah? Nama sayah Ujang, Bu.”

Ujang pulang. Ia pulang. Kembalinya ia karena satu hal. Merebut cintanya kembali. Mujaroh. Selama janur kuning belum melengkung, Ujang tidak akan menyerah. Kini, ia telah kembali untuk cinta.

Kembalinya Ujang ke kampung disaksikan oleh belasan supir bus, seorang ibu bertato, seorang kusir, dan…

seekor kuda bernama Daniel.

-to be continued-

Sabtu Minggu

Sabtu Minggu kemaren ada banyak kejadian yang patut untuk diceritakan.

Hari Minggu kemarin guah dateng ke talkshow-nya Bang Riva, penulis Cado-Cado yang seorang dokter spesialis mata juga. Talkshow-nya seru. Lumayan rame yang dateng. Dasar kalo emang kocak, pasti talkshownya kocak juga. Tapi yang paling guah inget adalah ketika sesi tanya-jawab.

Rizal (moderator): Mungkin dari audience ada yang ingin bertanya?

Ada seorang bapak yang tiba-tiba mengangkat tangannya dengan penuh gairah.

Rizal: Iya, Bapak. Silahkan. Mau tanya apa?
Bapak: Jadi gini…

Semua hening.

Bapak: Dok, saya sudah 5 tahun mengalami katarak. Jadi…

GEDUBRAK. Bah, kok jadi konsultasi gratis gini?

Lagi minta ttd ama si dokter, sama minta obat mencret

Vivi - Riva - Anak innocent yang pake kaos bertuliskan GANG DOLY

Di sana, guah juga ketemu sama tyo gaptek. Dan ketemu viyanthi silvana, penulis Mother Keder yang gosip-gosipnya cantik itu. Dan, bener, cantik. Tapi setelah ngobrol langsung, guah langsung bikin mental note. Luar Krisdayanti, dalem Omaswati. Cablak banget. Hehehe.

Anywaaaaaaaay,

Hari Sabtunya, guah pergi ke PIM, dimana banyak ABG pake hot pants, dimana banyak ABG menghabiskan waktu di usia produktifnya dengan jalan-jalan di mal untuk sekedar menghitung ubin (honestly, I did that too, hehe). Guah ke PIM untuk janjian ketemu dengan teman kuliah guah yang baru pulang dari S2-nya di Ohio, Amerika. Arin namanya. Rambo julukannya. Dari sana, kami rame-rame ke rumahnya, masih di daerah Pondok Indah.

Di rumahnya, kami makan baso, baso, dan baso. Minum coca cola, dan nyemil coklat. Paduan yang pas untuk bikin gendut. Trus kita ngobrol-ngobrol sama keluarganya, main-main sama sepupunya yang masih kecil. Trus kami nonton DVD Wanted. Adegan awalnya ada pria yang sedang menggagahi perempuan. Sontak, si Arin langsung nutupin layar TV agar sepupunya ga bisa ngeliat. Tapi hal ini kurang diridhoi oleh temen Arab kami, Usama.

Usama: Rin, Rin. Awas dong. Nutupin aja nih. Lagi seru, tau.

Astagfirulloooo, Usama. Tobatlah ente.

Jam setengah 10, Desi, salah satu teman kami, pamit pulang. Tapi jam 10, Arin mendapat telpon.

Arin: Iya, Des? Kenapa? HAH? Tabrakan? Lo tabrakan dimana?

Kami semua beranjak ke tempat Desi. Ga nyampe 15 menit kami sampai di TKP. Singkat cerita, kami menemani Desi sampai pagi, untuk ngurusin hal tabrakan ini di kantor polisi. Dari pos polisi Pondok Indah, sampe ke Polsek Jaksel di daerah Wijaya. Kami bertujuh malam itu. Jam sudah menunjukkan jam 1 pagi. Tapi kami masih duduk di kantor polisi. Tidak banyak yang bisa kami lakukan untuk Desi, but we’re just being there for her.

Josua ada di antara kami, padahal besok pagi-pagi sekali ia ada acara Family Day kantornya di Puncak. But he stayed. Amril juga duduk di sana, padahal besok pagi-pagi ia harus nyetir ke Bandung. But he stayed. Usama udah kebelet mo nonton Wanted lagi. But, he stayed. We all stayed. And, we laughed.

Mungkin lagu The Rembrandts terdengar basi untuk dinyanyikan, tapi tidak malam itu. Tidak malam itu.

“I’ll be there for you. Cause you’ll there for me too.”

Saatnya mengumumkan pemenang Kuis Kaos DDK. Ehem, ehem.

And the Oscar goes to…, and now, i will cut all this Oscar-winning-material, okey. Hehe.

Sebelum guah mengumumkan siapa pemenang kuis itu, guah ingin posting beberapa gambar dulu. Tentang 5 (lima) cowok tertampan di dunia. Entah kenapa di list ini yang muncul dari semenanjung Arabia semua. Buat yang wanita: selamat menikmati. Buat yang laki: jangan ngiri. Buat yang homo: jangan dimutilasi ya.

No 1: Cucunya King Faisal. Mungkin temennya King Kong kali ye.

No 2: Aktor dari India. Hobinya muterin pohon.

No. 3: Aktor dari Pakistan. Hobinya ngatain temen India-nya yang muterin pohon.

No. 4: Penyanyi dari Turki. Judul lagu hits-nya: Meneketehe. 

No. 5: Yang ini ga tau sapa. Nidjiholic kali. Pake-pake sorban soalnya.

Kan guah bilang cuma 5. Hehe.

Nah, sekarang kita lanjut ke esensi dari postingan hari ini, yaitu pengumuman pemenang Kuis Kaos DDK. Drum rolls please.

Pemenang review dengan komentar terbanyak, jatuh kepada:

paams, dengan 57 komen!
don danang, dengan 48 komen!

Dan, inilah yang ditunggu-tunggu. Pemenang review terbaik menurut tim juri, jatuh kepada:

1. aca

Sebagai pembaca, gue sangat terkesan dengan penulis yang mampu menyuguhkan alur yang menarik. Alur yang jelas, dan runut, serta dibeberapa bab memberikan penekanan khusus pada penjelasan karakter masing-masing tokoh utama, membuat pembaca seakan lebih mengenal tokoh-tokoh dalam novel TMOK ini. Penulis memberikan gambaran detail terhadap para tokoh, karakter yang kuat, meski ada sedikit keganjilan di beberapa cerita (misalnya Ujang yang ditokohkan sebagai orang yang lugu dan jarang naik darah, tiba-tiba memaki kuli panggul di pasar atau Cuplis yang dari awal cerita sampai akhir sedikit melupakan ke-sok-an inggrisnya), namun dialog-dialog cerdas dan jenaka membuat kekurangan2 itu hanyalah sekedar noda yang bisa dihapus oleh tawa (dan tentunya footnote yang kadang bikin senyum-senyum sendiri…lucu).

Kekayaan perbendaharaan kata juga membuat pembaca jarang menemukan kata-kata yang itu-itu saja (secara tidak langsung, seperti merepresentasikan kecerdasan penulis dalam pengolahan kata).

Overall, gue pikir ini adalah novel komedi yang lucu abissssss

2. febi

Dy pinter banget ngangkat kolor, yang biasanya dipandang sebelah mata tapi diangkat jadi sesuatu yang menarik buat dibaca dan diceritain jadi sebuah novel yang berisi dan patut dibaca.

Apalagi karakter pemeran utamanya bener-bener kentel. Dari Cuplis yang bodoh, Ujang yang rakus dan gampang dimanfaatin, sampe si Yanto bos geng yang ga tau diri! Pas baca ada bagian yang lucuuuu abis sampe sedih juga karena cinta. Ya, selalu ada cinta yang diangkat karena tetep hal paling menarik buat dibaca sih. Dan intinya ada tema persahabatan yang selalu di atas segala-galanya. Mungkin kita bisa kehilangan segalanya, tapi yang namanya sahabat mungkin ga pernah bisa. Makanya si Roy coba jelasin di sini pake cara dan cerita yang renyah banget.

Ah, pokoknya gue sukaaaaa banget deh ni novel.

Makasi ya semuanya! Makasi, makasi, makasi, makasi! Para pemenang akan dihubungi lebih lanjut via email untuk alamat pengiriman dan ukuran kaosnya. Jadi, pantengin terus email kamu-kamu. ^^

Dam sebagai penutup, guah ingin mengutip kalimat yang seorang Afgan sering lontarkan, yaitu:

Terima kasih cinta, untuk segalanya.

Wawancara antara guah dengan Mala, salah satu redaksi Bukune. Sumbernya dari sini. Enjoy! ^^

———

Anak kampung di wawancara

  1. Hi Roy, lagi sibuk apa sekarang (pertanyaan standar)?
    Kerja (jawaban standar)
  2. The Maling of Kolor dapet respon yang baik lho di pembaca. Gimana sih caranya bikin buku yang kocak kayak itu?
    Respon yang baik? Iya ya? Waa, senangnya. Hoho. Bikin buku yang kocak? Gimana ya? Kalo menurut gua pribadi, intinya adalah banyak latihan dan perbanyak referensi. Just be funny and be you.
  3. Kamu emang dari sononya ngocol atau gimana?
    Ah, Mala, pake aku-kamu segala. Aku kan jadi malu. Hehe. Ehem, ehem. Tadi gimana pertanyaannya? Ngocol ya? Hm. Kalo kata temen-temen, gua itu bukan ngocol. Mungkin lebih ke arah suka menghibur aja kali ya. Roy si Lelaki Penghibur. Hm, kok kesannya jadi mesum gitu ya?
  4. Berapa lama proses penulisan buku ini?
    Ngumpulin idenya mulai dari awal November. Kalo ditotal, dari awal sampe rilis itu sekitar 8 bulanan lah. Kebetulan gua memang agak lelet dalam menulis. Gua ini penulis berjenis lambat. Sesuai dengan pepatah kuno: biar lambat, asal ganteng (hueks…. -red).
  5. Dapet idenya dari mana aja?
    Ide awalnya dari gosip selebritis. Tapi demi lestarinya hidup gua, gua ga akan bilang gosip seleb yang mana. Hehe. Dari situ dikembangin deh. Kebanyakan ide datang ketika gua melamun di perjalanan pulang kantor, atau ketika… (melamun sampe lupa jawab)
  6. Kenapa kamu mengangkat kolor alias kancut alias daleman untuk buku kamu? Jangan-jangan kamu fettish kolor?
    Lagi pingin nulis cerita yang dari judulnya aja provokatif alias heboh alias nyeleneh (alias-nya dibanyakin biar mirip sama pertanyaannya). Fettish kolor? Pengennya sih gitu. Tapi bagaimana mungkin? Bicara saja aku sulit (lho?)
  7. Inspirasi tokohnya dari mana aja?
    Ada yang dari tokoh di TV. Ada yang pecahan dari karakter gua juga. Ada yang gabungan dari karakter temen-temen gua.
  8. Siapa tokoh favorit kamu di buku ini?
    Pembaca wanita dari buku gua sih mayoritas menyukai tokoh Ujang. Kalo gua suka pembaca-pembaca wanitanya lah. Hehe.
  9. Ending-nya unpredictable banget deh, bikin penasaran. Sengaja ya?
    Iya, iya. Ada unsur kesengajaan di sana (kesannya kayak pembunuhan gitu). Tadinya ada rencana untuk membuat lanjutan dari buku ini. Istilah kerennya sekuel-sekuel gitu deh. Tapi masih ingin menunggu respon pembaca lebih lanjut, dan masih merampungkan idenya lagi.
  10. Ada hal-hal konyol ato lucu selama penulisan TMOK nggak?
    Ada ga ya? Hm. Lupa. Hehe.
  11. Suka baca nggak? buku favoritnya apa?
    Membaca? Like it. Love it. Buku favorit? Sejauh ini, gua memfavoritkan Lupus-nya Hilman, dan Gege Mengejar Cinta-nya Adhitya Mulya. Selain itu Detektif Conan, dan buku-buku karangan Dan Brown juga seru-seru.
  12. Gimana rasanya kerjasama dengan Bukune? susah nggak nembusin naskahnya?
    Redaksinya asik-asik. Enak diajak kerjasama, dan pengertian banget. Pokoknya ga malu-maluin deh buat dibawa ke kondangan. Nembus penerbit? Susah-susah gampang. Kayak malam pertama gitu deh.
  13. Next project apa nih?
    Jadi presiden Uganda. Dan sesekali menulis naskah kedua. Genre-nya PeLit (personal literature). Doain ya supaya lancar. Dan semoga bisa diterima oleh penerbit dan dijadikan buku kembali. Amin.
  14. Wanna say something buat penggemar buku kamu?
    Penggemar buku gua? Penggemar gua-nya mana? Jangan buku gua aja donk yang digemari. Gua-nya juga boleh kok digemari. Sini-sini, gemari akuuuuu!

 ———

Ya, itulah guah, si banci interview. Huehehe.

Anyhoo, dengan ini Kuis Kaos DDK resmi ditutup. Buat yang udah ikutan, now cross your fingers! Sejauh ini, guah mendapatkan review yang bagus-bagus. Agak susah juga menentukan siapa yang menang. Hm, but we’ll see.

Siapa-siapa yang menang akan diumumkan di postingan berikutnya. So, stay tune! ^^

Be Fun With It

Hari ini tanggal 24 Juli 2008. Itu bisa berarti 3 hal. 14 hari Mak Erot meninggal, besok guah gajian (yihii), dan lusa adalah kesempatan terakhir untuk ikutan Kuis Kaos DDK! Makasi buat yang udah ikutan! Bagi yang belum, ayo buruan, masih ada sisa 3 hari lagi untuk ikutan! Buruan beli, baca, review, dan menangkan kaosnya! Yihii! Kaos-kaos kece ini menantimu! ^^

Beware of this cute t-shirt!

Oiya, novel The Maling of Kolor (TMOK) kembali direview oleh aca, dan the armstrong. Makasi ya! ^^

Kalo menurut guah pribadi, TMOK itu gimana ya? Hm. The Maling of Kolor. It’s just like Ocean Eleven, minus George Clooney. Okey, minus Brad Pitt, too. Hm… okey, okey, minus Matt Damon, and all the other handsome parts! There you have it!

Pengen bilang makasi juga buat yang kemarin nanyain kesehatan guah. Beberapa hari ini guah emang lagi ga enak bodi. Tapi, berkat doa dan perhatian kamu-kamu semua (ciee), sekarang udah mendingan nih. Hehe.

Anyhoo, sekarang ini guah lagi menulis naskah kedua. Naskah PeLit, tentang kehidupan guah selama kuliah. Mulai dari masuk, sampe lulus. Tapi mentok-tok-tok-tok. Menulis PeLit, bagi guah, lebih sulit dari menulis fiksi. Argh.

Ademsit (baca: ah damn sh*t)

Dan kini guah berdiri di persimpangan. Mau lanjut nulis PeLit? Atau menulis fiksi kembali? Cerita fiksi yang melanjutkan kisah maling-maling kolor itu. Sekuel The Maling of Kolor. Hm. Soalnya ada beberapa rekan dan pembaca yang bertanya-tanya:

“Gimana kelanjutan kisah Mujaroh dan Ujang?”
“Apa bener Bang Yanto segitunya?”
“Kok yang nulis ganteng banget sih?”
“Abis baca pertanyaan nomor tiga di atas saya mau muntah nih. Dimana ya enaknya?”

Ah. Tapi guah harus tetep menulis PeLit ini. Menulis sebuah kisah yang membuat merinding tiap kali guah mengetiknya. Guah harus. Guah pengen. Semangat Roy! Yihii. Just be fun with it. Dan, seperti kata Ujang di buku TMOK:

“Setidaknya sayah ingin menyelesaikan apa yang telah sayah mulai di sini.”

Helo.

Pertama-tama, mo minta maaf karena ga bisa dateng kopdar Ragunan hari Minggu kemarin. Karena guah ada acara keluarga yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Maap-maap. ^^

Oke, lanjut ke postingan. Sabtu kemarin, guah pergi ke kampus UI Depok untuk menghadiri acara Dirgahayu TIUI yang ke-10. Acaranya rame, seru, dan membahana (bah, bahasa apa pula ini). Tapi, ada hal lain yang membuat guah ngebet banget pengen dateng ke sana. Guah kangen kampus.

I’ve been here before, I recognize that ship.

Kapal beton yang jadi kebanggan anak Teknik Sipil, yang dipampang di depan Fakultas Teknik.

I’ve been here before, I recognize that dogs.

Anjing yang selalu mengejar-ngejar guah dan temen-temen ketika kami pulang malam sehabis ngerjain tugas di kampus. Yang selalu menggongong ketika cowok-cowoknya mo maen basket pagi-pagi. Anjrit lu, anjing!

But, the most important thing is… I’ve been here before, I recognize that smile.

Senyum yang mengembang manis dari bibir orang-orang yang guah kenal. Senyum yang selalu menyambut dan melepaskan penat di kala panas yang menyengat. Ah, feels like home.

Anyhoo, acara ini dihadiri oleh para dosen, alumni, dan mahasiswa yang masih bergelut dengan dunia perkuliahan. Yang dateng rame, panggungnya juga rame, dan yang paling utama, makanannya RAME! Baru dibuka sesi makan-makan, guah dan angkatan guah langsung bergerilya mencari makanan. Semua sudah stand by di depot sate, sambil senyum-senyum dengan muka birahi. Setelah sate, incaran berikutnya adalah siomay, bakso, dan es doger. Semua kami ganyang! Huahahaha.

Di sela makan-makan ada juga games, dan acara nge-band. Angkatan guah juga menyumbang dua lagu. Guah pun ikut bermain. Guah duduk di belakang, main drum. Kami udah lumayan sering main bareng, tapi sampai sekarang masih sering juga ngaco. Hehehe. Dialog seperti ini mungkin terjadi ketika kami latihan.

Gitaris: Kenalan ama cewek itu kayak nyetem gitar.
Guah: Kenapa tuh?
Gitaris: Kalo udah ketemu selanya, jadi enak. Hehe.
Guah: Ooo. Kalo guah, bertemen ama lu itu kayak maen drum.
Gitaris: Kenapa tuh?
Guah: Bawaannya pengen mukul mulu.

Tapi, itu ga terjadi kok. Hehe.

Selain band angkatan, guah juga ikut nimbrung di band dadakan. Di band dadakan itu, guah nge-jam bareng Rio, salah satu personil dari Soulvibe. Tapi kali ini guah ga beraksi sebagai drummer, tapi guah sebagai vokalis. Ciee.

Sebelum nyanyi, guah promosi buku bentar.

“Jadi, Ibu-Ibu, kalo Ibu sudah punya buku di rumah, bisa saya pastikan buku ini beda, Bu. Beda!”

Hm, barusan kok guah terdengar seperti sales panci yah?

Lanjut. Melihat animo penonton yang sepi, guah mendapat ide, senyum-senyum, dan dengan bijak berteriak,

“Hayo, maju ke depan dong! Pilih mana, maju ke depan atau beli buku guah?!”

Dan, semua penonton berdesak-desakan berlari ke depan. Ah, crap!

Lalu guah menyanyikan lagu Hapus Aku - Nidji. Tadinya, sambil nyanyi guah ingin meneriakkan hal-hal yang sering seorang vokalis teriakkan, seperti:

“Mana suaranya!”, atau,
“Lambaikan tangannya!”, atau,
“Angkat tangan semuanya! Anda semua sudah terkepung!”

Lho, kok jadi kayak penggerebekkan gitu ya?

Di ujung acara, ketua panitia, yang juga seorang dosen, memotong kue sebagai simbolik dirgahayu departemen kami. Selepas memotong kue, ketua panitia melepas balon, lagi-lagi sebagai simbolik bahwa semoga departemen ini terus naik ke atas seperti halnya balon itu… yang ga lama kemudian nyangkut di genteng. OMG. Pertanda buruk. Tapi, balon itu diterbangkan kembali, dan kali ini membumbung tinggi.

Lalu, kami semua melihat ke arah balon yang terbang itu. Melambai-lambai dan tersenyum.

I’ve been here before, I recognize that smile.

Lagu Hits

Hei hei.

Pertama-tama, selamat buat aca, febi, dan tyo, karena bukunya berhasil cetak ulang. Kiu-kiu! Mereka layak dapat bintang. ^^

Lagi pengen ngomongin lagu nih. Udah pernah denger lagu Ari Lasso yang Mana Ku Tahu?

Mana ku tahu
Kapan tiba ajalku
Kuakan memohon
Tuhan tolong panjangkan umurku

Wait… liriknya salah. Dan, udah pernah denger lagu Jikustik yang Dia Harus Tahu? Kok kedua lagu ini kayak sahut-sahutan ya? Begini jadinya.

Dia tak pernah tahu
Bagaimana ku menjagamu
Dia tak pernah tahu
Jatuh bangun ku mengejarmu
Tapi dia harus tahu…

Yang langsung dipotong oleh Ari Lasso,

Mana ku tahu!
Kau sudah punya kekasih!

Atau, kalo dalam bentuk dialog.

Jikustik: Tapi dia harus tahu…
Ari Lasso: Mana ku tahu!
Jikustik: Tapi dia harus tahu!
Ari Lasso: Mana ku tahu!
Jikustik: Tapi dia HARUS TAHU!
Ari Lasso: Yeeeee, dibilangin kalo gua ga tau. Ngeyel banget sih. PUAS?!

Yang jadi pertanyaan guah adalah: ada apa antara musisi dengan tahu?

Dinginnya, rek, di sini. Putingku sampai mengeras gini

Motor kita tadi parkir dimana, Jek?

Iya, ini tahu, bukan sabun batangan

Atau lagu Peterpan yang terdengar sangat mesum ini. Lagu Di Balik Awan. Coba kita tinjau bait pertamanya.

Ku tak selalu ‘berdiri’
Terkadang hidup memilukan

Pantesan Sarah Amelia minta cerai. Hehehehe.

Anyhoo, sekarang-sekarang ini guah lagi suka Hanya Untukmu - Ran. Bikin guah goyang-goyang, tanpa iringan suling bambu dan gendang kulit lembu. Terajana, terajanaaaaa. Eh, hm, maap, naluri dangdut guah keluar.

Kalau kamu, lagi suka lagu apa?

Older Posts »