Sebuah Malam di Thamrin

Posted in stories on April 30, 2012 by roy saputra

Hari itu hari Rabu. Pukulnya pukul tujuh. Gedung BI menjulang megah di sisi kiri. Departemen Agama berdiri di sebelah kanan. Para karyawan kedua instasi negara ini sudah pulang dari petang. Mobil lalu lalang di depan mata. Jalur busway bersih dari kontaminasi mobil pribadi.

Trotoar Thamrin ramai oleh calon penumpang yang sedang menunggu bus langganannya lewat. Berteduh di bawah pohon-pohon rindang yang ditanam di antara beton pelapis sisi jalan. Pedagang kopi bersepeda menjadi ornamen tersendiri bagi trotoar Thamrin. Lampu-lampu jalanan jadi penerang nomor satu. Memberi cahaya pada langit Jakarta yang sudah tak berbintang dari dulu.

Sebuah Kopaja seliweran tak beratturan. Sang kondektur yang berseragam menjajakan tujuan akhir dari rutenya. Tenabang, Tenabang. Begitu katanya. Seolah mengatakan Tanah Abang secara lengkap bisa membuatnya sesak napas. Kopaja itu lalu berkelok cepat di tikungan Departemen Agama. Si supir seperti lupa apa itu pedal rem.

Aku berdiri di situ. Di antara gedung BI dan Departemen Agama. Di bawah lampu jalanan dekat tikungan Kopaja tadi berbelok. Berkemeja dengan lengan dilipat, tas kugendong di belakang, dan sepasang earphone menggantung di telinga.

Mataku fokus melihat ke depan. Menatap plang biru Bangkok Bank yang ada di seberang jalan sana. Menanti mobil dari arah Sudirman dan sebaliknya berhenti melintas. Tepat di sebelahku, motor-motor juga sedang menunggu. Gas mereka tarik dalam posisi gigi netral. Seakan mereka pembalap yang sedang menanti aba-aba.

Yang aku dan mereka tunggu hanya satu. Detik lampu lalu lintas, berubah dari merah jadi hijau. Karena ketika itu, motor akan meliar, mobil pasti memadati jalan Kebun Sirih, dan aku bisa menyebrang jalan dan bertanya pada seseorang di sana. Seseorang yang kusebut mantan.

Ia sedang berdiri dengan blazer hitam dan celana panjang. Mendekap tas di depan, seperti terakhir kali dia mengucap pisah. Entah ia tau atau tidak keberadaanku yang sedang mengamatinya dari jauh. Perjumpaan tak sengaja ini tak akan kusiakan. Akan kutanya satu hal yang dari dulu menggangguku.

Kenapa kita putus?

Waktu ia mengucap pisah, itu hanya lewat pesan singkat. Kubalas dengan geram namun tak ada balasan. Ditelpon pun tak diangkat. Entah apa maunya. Setelah hari itu, tak ada kabar berita. Kutanya temannya, semua enggan menjawab. Kudatang ke rumahnya, tak ada yang membukakan pintu. Ia bagai hilang begitu saja. Namun, dua purnama kemudian, aku tak sengaja melihatnya.

Hari itu hari Rabu. Pukulnya pukul tujuh. Entah siap atau tidak, aku ingin mendengar darinya langsung tentang kenapa kita putus. Lebih baik hidup menderita karena kejujuran daripada mati menyesal penasaran. Malam ini, akan ku dapat jawab darinya.

Ah.

Yang ditunggu tiba juga. Lampu lalu lintas berubah jadi hijau.

Dan aku menyebrang jalan.

Sebuah post yang diperuntukkan untuk working-paper.com

Bahan Postingan. Level: Asian.

Posted in hobbies, stories on December 27, 2011 by roy saputra

DISCLAIMER: Spoiler alert!

Maafkan aku, wahai Dewi Perssik dengan double S.

Tak henti-hentinya, aku membahas dirimu di blogku ini. Blog ku pasti hampa tanpa kehadiranmu. Seperti halnya

Read more »

Hari Blogger Nasional

Posted in stories on October 27, 2011 by roy saputra

Dear blog,

Maaf jika aku tak setia. Pernah ku mencintaimu, tapi tak begini. Oh, lagu Anang sialan, terngiang mulu di kepala meski sudah lewat jamannya.

Maaf sudah lama tak kesini. Mungkin kamu sering mencariku dan bertanya, kemana kemana kemana. Nah, lagu ini juga sialan. Terngiang karena lagi jamannya.

Maaf aku menyelingkuhimu. Twitter lebih muda dan menggoda. Dia lebih kurus dan berbobot 140 karakter. Maaf aku pernah meninggalkanmu. Tapi kini aku kembali, dalam rangka Hari Blogger Nasional. Seperti kata Ello, aku pergi tuk kembali. Syu bi dup, syu bi dup…

Maaf jika kini aku harus pergi lagi. Tapi tak kan sampai 3 kali puasa, 3 kali lebaran. Semoga bulan depan aku kembali, untuk promosi buku baru. Nah, blog, kalo di Twitter ini namanya #kode.

Sekarang aku pamit. Seperti kata Budi, doakanku harus pergi, relakan aku di sini, misalnya aku kan pulang, fastikan kau tetap menunggu. Fastikan? Maksa ya. Mungkin lebih cocok orang Sunda yang nyanyi. Do re mi pa. Kalo banci yang nyanyi, do re mi cyin.

Well, anyway,

Sampai jumpa, bulan depan, pada hari dan jam yang sama. Kayak Doraemon.

Salam,

Blogger Murtad yang sedang hiatus sampe kurus.

PS: Selamat Hari Blogger Nasional!

Ngemeel Prince Waffle

Posted in hobbies on September 20, 2011 by roy saputra

Lagi-lagi, gua main ke fX. Gua main ke fX, lagi-lagi.

Entah apa yang membawa gua kembali ke mall dengan tangga jalan yang ga sinkron dan tempat nongkrong yang menggantung. Cocok untuk orang dengan… ah, sudah lah. Mungkin suratan takdir yang membawa gua ke sini.

Berlatarkan suara petir, gua masuk ke dalam sambil membanting pintu kayu… lo kate pelem koboy?!

Well, anyway,

Bermodalkan rasa haus dan lapar yang meninggi tapi isi dompet yang merendah, gua memberanikan diri untuk mencari makanan dengan harga yang cocok dengan isi dompet. Hari itu tanggal dua sembilan, tapi isi dompet sudah wasalam.

We are the only survivors here,” kata uang sepuluh ribu kepada dua puluh ribu dari dalam dompet.

Akhirnya gua memberanikan turun ke lantai FB. Mata gua langsung tertuju ke booth Prince Waffle. Letaknya sangat mudah terlihat dari tangga jalan turun. Ditambah lagi dengan jargon Best Belgian Waffle, makin lengkaplah rasa penasaran gua untuk mencoba jajanan yang satu ini.

Boleh, kaaaak! Dicoba dulu, kaaaak!

Prince Waffle menyediakan 2 jenis waffle. Yang hangat (Waffle Break dan Grande), atau yang dingin dengan es krim (Waffle Freeze). Kalau lu Vety Vera, lu akan kesulitan mendapatkan yang sedang-sedang saja di sini.

Di setiap jenisnya, Prince Waffle menyediakan banyak sekali pilihan. Ibarat kuis, lu seperti ada di Take Me Out. Banyak sekali waffle-waffle jomblo haus belaian, yang minta dipilih. Ada coklat, vanila, madu, bahkan ada yang bertoping buah.

Selain pilihan yang banyak, yang membuat gua semakin sumringah adalah harganya yang sangat bersahabat. Belasan ribu rupiah untuk sebuah jajanan waffle. Mantap kali bukan?

Tiramisu Ciocco. Apakah dia mamamia lezatos?

Pilihan gua jatuh ke Tiramisu Ciocco.

Penampilannya sungguh menggoda meski racikannya cukup simple. Waffle, es krim coklat, sirup coklat dan taburan kacang almond. Cocok untuk dijadikan cemilan sore hari.

Setelah beberapa kunyahan, gua merasa sepertinya pilihan gua ini ga gitu oke. Combo rasa manis dari topingnya agak berlebih, membuat gua eneg setelah sendokan yang kesekian. Sebagai penggemar coklat, gua merasa kombinasi coklatnya terlalu manis.

Tapi gua suka sama tekstur waffle-nya yang crunchy. Warna panggangannya pun bikin menarik. Rasanya juga pas, ga terlalu tawar seperti roti, tapi juga ga terlalu manis seperti saya. Ehem.

Karena pilihan pertama ga begitu oke, gua yang penasaran pun mau mencoba lagi. Kali ini, gua memesan waffle yang kedua. Honey Caramelle dengan tampilan yang lebih less-chocolate.

Honey Caramelle. Kamu siapanya Cherry Belle?

Waffle, es krim vanila, madu, dan kacang almond habis gua lumat dalam 10 menit. Honey Caramelle ini menjadi pentralisir rasa manis yang sebelumnya. Waffle-nya masih konsisten dengan tekstur crunchy dan warna panggangan yang menarik. Rasa manis madu yang pas, saling melengkapi dengan rasa es krim vanilla-nya. Maknyus!

Overall, Prince Waffle cocok buat dijadikan jajanan saat kencan pertama, ataupun teman jalan sendiri di mall. Harga yang sangat bersahabat sangat cocok buat anak muda, apalagi yang sedang kere kayak gua. Setelah era donat dan yoghurt, waffle bisa saja menjadi trend jajanan tersendiri bagi anak jaman sekarang. Ngemeel Prince Waffle, begitu istilah gua sore itu.

Ah, setelah rasa haus dan lapar terpenuhi, gua pun memutuskan untuk pulang.

Hari itu tanggal dua sembilan, isi dompet sudah wasalam… tapi perut terpuaskan.

Nyobain Kafein

Posted in hobbies on July 25, 2011 by roy saputra

Kamis malam. Malas pulang.

Gua memutuskan untuk berkelana sendirian ke fX, mal dengan konsep yang agak beda menurut gua. Tangga jalan yang ga sinkron, tempat nongkrong yang menggantung. Cocok untuk orang dengan muka ga sinkron dan kisah cinta yang digantung.

Well, anyway,

Gua jadi teringat rekomendasi teman gua yang kerja di http://www.disdus.com tentang sebuah tempat nongkrong pewe dan terbilang cukup baru di fX. Namanya Kafein.

Dan ternyata bener. Tempatnya pewe banget karena persis ada di lobby utama fX. Dan makin pewe, karena malam itu, lagi ada band yang manggung ngebawain lagu-lagu top 40.

Minum sesuatu sambil dengerin lagu di tempat pewe? Sepertinya keputusan gua untuk berkelana ke sini sangatlah tepat.

Gua bergegas ke meja order dan penasaran sama menu apa aja yang mereka tawarin. Setelah menimbang bahan dasar masakan dan membersihkan alat masak, yang pertama kali Fero lakukan adalah merebus air… kalimat terakhir membuktikan bahwa menonton terlalu sering sebuah acara masak di televisi bisa mengacaukan isi otak. Abaikan.

Oke, lanjut ke Putri yang Ditukar.

Hmm… bukan ya?

Akhirnya gua memutuskan untuk memesan Oreocheese Cake Frosty dan Fudge Brownies. Sambil duduk menikmati lagu Lucky dari band yang lagi manggung, gua menyeruput Oreocheese Cake Frosty.

Dan rasanya… adem bener!

Bener-bener frosty. Bikin bodi jadi comfy. Kayak lagi naek VW comby… abaikan kalimat yang terakhir.

Ditambah lagi, taburan keju di atas dan di dalam minuman itu menjadi “kejutan-kejutan” kecil yang menyenangkan. Gua pribadi baru kali ini menemukan keju pada minuman. Awalnya agak ragu, tapi setelah dicoba jadi nagih! Karena manis pahit dari oreo bercampur dengan asin dari keju bikin lidah goyang terus. Very lucky to have this Oreocheese Cake Frosty!

Sekarang waktunya Fudge Brownies. Dari penampakannya agak meragukan karena terlihat seperti batu bata yang dipungut dari hasil tawuran di Bulungan. Ditemani lagu Man Who Can’t Be Moved, gua memberanikan diri untuk menelan potongan pertama dari Fudge Brownies.

Dan rasanya… eunak tenan!

Cocok sebagai teman lagu galau dan timeline labil di malam hari. Terlepas dari penampilannya yang meragukan, Fudge Brownies sangat menyenangkan di lidah. Rasa coklatnya yang pekat tapi tidak manis, bikin lidah can not be moved. Maunya ngunyah terus. Hanya butuh 5 menit untuk menghabiskan brownies yang wualah enaknya ini.

Gua mengelap mulut dari rempah kue yang tersisa, dari buih minuman yang membekas. Setelah 1 jam, gua memutuskan untuk pulang. Sungguh malam yang menyenangkan.

Kamis malam. Perut kenyang. Mari pulang.

Thank you, Kafein!

Dan gua pasti kembali untuk menikmati suasana ini lagi

Sayang Anak, Sayang Anak

Posted in Uncategorized with tags on June 27, 2011 by roy saputra

UPDATED (10/07/11):

Bagi yang berminat untyk membeli kedua buku gua yang lama, bisa cek di books.istribawel.com yang dibina oleh Adhitya Mulya dan Ninit Yunita :)

=====

UPDATED (06/07/11):

Penjualan kedua buku melalui blog ini dihentikan dan akan dilanjutkan dengan jalur yang berbeda. Tunggu kabar selanjutnya.

Salam,
Monica Desideria… halah.

Yang mau beli, tunggu berita selanjutnya ya. Bisa di blog ini, atau follow gua di @saputraroy.

Ciao!

=====

Bro, mau jualan buku nih, bro.

Setelah rilisnya buku gua yang ketiga, banyak pembaca baru, yang entah kesambet setan mana, jadi pada nanya soal 2 buku gua sebelumnya, yaitu:

1. The Maling of Kolor (2008)*
2. Doroymon (2009)*

Menilik pada tahun terbit yang sudah agak lama, biasanya kedua buku gua ini susah ditemukan di toko buku manapun. Melihat dari judul-judulnya yang super antik, mungkin kedua buku ini sudah dijadikan ramuan pesugihan oleh sebuah suku pedalaman.

Anyway,

Di kesempatan yang bersahaja ini (bahasanya MC kawinan banget yak), gua ingin mengumumkan bahwa gua menjual kedua buku itu. Plessss, akan gua tanda tangan, pake kecup bibir bila perlu. Muehuehe.

Harga sama kayak di toko buku:
The Maling of Kolor: XX,000
Doroymon: XX,000

Kalo kamu beli dua-duanya, ongkos kirim gratis (kawasan Jabodetabek) atau potongan 50% (kawasan di luar Jabodetabek). Kalo beli satu, terms and condition not applied ya.

Untuk inquiry lebih jauh, bisa email gua di roy_ti03@yahoo.com. Proses pemesanan dan pembayaran akan dijelaskan via email.

Jadi, bagi yang penasaran, ayo buruan beli. Stok terbatas!

*untuk info buku bisa dilihat di kolom Buku Roy pada blog ini

Jumpa Lagi, Dengan Maissy Di Sini

Posted in project, stories on May 27, 2011 by roy saputra

Hey, udah lama ya ga ketemu. Kesibukan, kegiatan, dan kekacaubalauan telah membuat gua hilang dari peredaran layaknya susu basi.

Tapi sekarang gua balik lagi. Semoga kali ini, jadi lebih rajin mosting. Amin.

I must have missed so many scary movie, mustn’t I?

Sepertinya gua ketinggalan setan makan temen (Kuntilanak Kesurupan) dan setan tanpa tangan yang coba joget di kamar mandi. Helow, jempol aja ga punya, mau joget lagi. Hadeh.

Banyak yang udah gua lewatin. Kalo diliat, tanggal postingan terakhir gua itu setahun lalu. Tepat setahun lalu. Gila ya. Gua yang dulu memproklamirkan diri sebagai blogger, telah meninggalkan “status” itu selama 1 tahun.

Terakhir kali, gua ngepost tentang Arumi yang hobi kabur dari rumah. Dan pas gua ngepost lagi, Arumi baru aja pulang ke rumah. Hmm, ada apa antara gua dan Arumi ya?

I must have missed more than just scary movies, mustn’t I?

Ya, life happens.

Banyak yang terjadi sama gua. Asmara yang kacau, pindah kerja, kehilangan nenek, dan masih banyak lagi. Tapi di tengah kekacauan itu, gua menyempatkan diri untuk kembali bermain dengan otak kanan gua.

Yep, gua kembali menulis buku.

Setelah sempat vakum selama nyaris 2 tahun, gua kembali menulis buku. Judulnya Luntang Lantung, terbitan Bukune, rilis Februari 2011. Buku setebal 200 halaman lebih ini adalah sebuah cerita fiksi tentang Ari Budiman, seorang mahasiswa yang baru lulus dan sedang luntang lantung: cari kerja, cinta dan jati diri.

…ini gimana cara masukin picture via wordpress for android ya?

Well, anyway,

Buku ketiga gua ini udah nangkring di toko buku seluruh Indonesia. Dan sudah nangkring pula di rak best seller beberapa Gramedia di Jakarta, kayak di PIM, Matraman, dan Pejaten Village.

Jadi yang belum beli, ayo ayo, buruan dicari sebelum kehabisan. Hohoho.

Di buku yang ketiga ini, gua juga meyisipkan beberapa ilustrasi komik. Ada 17 ilustrasi kalo gua ga salah inget. Selain itu, seperti halnya buku kedua, gua menyisipkan sebuah lagu karangan gua sendiri, yang berjudul: Strawberry Jus.

Banyak hal baru. Tapi gua tetaplah Roy Saputra yang lama.

Dan senang rasanya bisa berjumpa lagi dengan kalian, wahai bloggers :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.