Polaroid Masa Lalu

Posted in pictures with tags , on June 29, 2009 by roy saputra

*Doroymon, a wonderful masa jadul (Bukune, 2009) hal 146-147

Selain bahasa Inggris, presentasi ini pun menuntut kami untuk menampilkannya dengan unik. Ada kelompok yang bergaya robot-robotan. Ada yang menggunakan drama Romeo dan Juliet untuk sarana presentasi. Ada juga yang memakai cerita sebagai wartawan MetroTV yang tidak menerima imbalan dalam bentuk apa pun selama peliputan… hmm, kayak pernah baca nih.

Paling gua inget adalah saat kelompok Dikun presentasi. Dikun jadi robot gitu. Oiya, Dikun juga salah satu dari kami yang blepotan kalo ngomong bahasa Inggris. Dia berdampingan dengan Heny yang berperan jadi Dora The Explorer.

So, Robo Dikun, how do you think about this problem?” tanya Heny sambil menggendong boneka monyet. Ceritanya itu si Boots, monyet temennya Dora. Tapi kok Heny lebih mirip si Buta dari Goa Hantu ya?

Di sini, Dikun harusnya membacakan kalimat yang ia udah hafalkan dari pagi. Tapi, sekarang, ia lupa.

“Eh… hm…”
“Robo Dikun?” Heny panik karena Dikun gak ngomong bagiannya.
“Hm…”
“Robo Dikuuuun?”
“Error, Dora. Dora, Error. Error nih. Error.” Bisaan aja si Dikun ngelesnya.

Untung Heny ingat bagian Dikun. Jadi Heny lah yang akhirnya membacakan kalimat Dikun. Tapi, semenit berikutnya, Dikun udah ingat bagiannya dan ingin melanjutkan sendiri. Ingin agar Heny jangan ikut campur, maka Dikun berteriak:

“DON’T FOLLOW MIX!”
Jangan. Ikut. Campur.

Jenius.

foto dikun

Yang paling kiri itu Heny the Explorer. Yang di sebelahnya, yang pake karton warna emas, itulah Dikun si Jenius.

Dan percayalah, mereka itu sedang mempresentasikan sebuah tugas mata kuliah yang teramat penting. Percayalah.

Sabtu kemaren gua baru dapet satu folder foto lama dari temen. Gua jadi keinget beberapa kejadian dari buku Doroymon. Seperti presentasi siskual yang ngaco itu, atau seperti yang ini:

it's me playing drums

Playing drums is never dull

Ini waktu gua beserta teman-teman akan membawakan lagu Astrid tanpa latihan. Penasaran dengan wajah-wajah pemain band lainnya? Sok atuh.

the band

Jo (the bass player), Naya (the guitar hero), Maryono (pedagang lapo tuak)

Atau, foto lainnya. Tentang cerita ini…

Di awal-awal acara, MC naik ke panggung untuk memberikan semacam award-award. Ada 2003 terlucu, 2003 terunik, dan terlalu. Yang terakhir ter-apa? Ter. La. Lu . Semua pemenang ditentukan berdasarkan poling yang disebar ke 2003 sendiri.

“Dan, nominasi untuk 2003 termaju adalah…” MC menunjuk ke arah layar. Di sana terpampang 3 foto nominatornya. Ada Maryono, Mas Agus, dan terakhir ada gua.

“Pemenangnya adalah… Roy!”

Gua pun maju ke depan dengan tebakan-tebakan yang bikin gak enak hati. Ini pasti gua dipilih gara-gara perut gua yang kayak Doraemon nih. Apa kek yang maju. Pemikiran kek, otak kek, visi kek. Masa perut yang maju? Siaul. Tapi, gua gak abis akal. Gua naik ke atas panggung, dan mengambil alih mik.

“Aha! Terima kasih, teman-teman. Ini termaju ya? Lihat nominatornya. Ada Maryono yang cum-laude, ada Mas Agus yang Duta Muda Asean. Ini pasti nih. Pasti nih. Yang maju pasti… PRESTASINYA. Bukan begitu? Ya kan? Ya tho?” tanya gua mencari justifikasi.

termaju!

“Ya kan? Ya tho?”

Ah.

Foto-foto ini hanya membuat gua semakin kangen dengan masa jadul gua yang wonderful. Foto-foto ini membuat gua tersenyum. Liat lagi. Tersenyum lagi. Foto berikutnya gua tertawa melihat sepenggal foto lucu milik mereka. Berikutnya, gua terharu, mengingat kejadian juara olahraga.

Senyum, tawa, tangis, haru…. mereka memajemukkan rasa dalam hati.

Sedetik berikutnya, gua mulai gundah. Bengong di depan layar. Menatapi kilasan-kilasan yang seolah bermain di kepala. Mereka bagai polaroid masa lalu, tertulis di masa kini.

polaroid

Because, the stories are real.

The characters are real

And most of all… the friendship is real.

Bye, Michael

Posted in stories with tags on June 26, 2009 by roy saputra

Gua bukan penggemar berat lagu-lagunya.
Gua juga bukan penggemar berat karya-karyanya.

Tapi punya karier panjang seperti ini dan masih akan mengadakan konser di usianya yang ke-50, he’s must be a great artist.

Suka atau ga suka, karya-karyanya sungguh melegenda. Terngiang-ngiang di kepala dan suka didendangkan tanpa sengaja. Lagu-lagu seperti Black or White, Heal The World, Remember The Time, atau yang lebih klasik seperti Smooth Criminal yang sering dinyanyikan ulang dengan berbagai versi, Beat It yang diplesetin sama Warkop jadi Cepirit, atau yang paling ngetop: Thriller.

Koreografinya juga menjadi cerita tersendiri. Siapa yang ga tau gaya moon-walk, gaya berjalan seolah-olah maju tapi mundur. Atau gaya anti-gravity lean di video klip Smooth Criminal, yang dipatenkan oleh si empunya. He has his own style.

Sayang di penghujung kariernya, dia malah banyak dicela, dihina, atau bahkan diasingkan. Tuduhan kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak menjadi sorotan utama. Ga jarang, dia menjadi bahan cemoohan di film-film parodi Hollywood.

Dia sungguh pribadi yang fenomenal. Dan setelah perjalanan yang panjang itu, akhirnya ia kalah oleh penyakit jantung.

Sebagai penutup, gua ingin mengucapkan…

Bye, Michael

Adios, hombre

Sayonara…

michael-jackson

Innalillahi wa innailaihi raji’un

Michael Jackson
29 Agustus 1958 – 25 Juni 2009

Kalo menurut kamu, MJ itu gimana?

Megan Fox at Berlin Premiere of Transformers 2

Posted in pictures with tags , , on June 23, 2009 by roy saputra

UPDATED (24/06/09):

Anjrit. Megan Fox was a MAN!

Banci thailand juga dia. Berita (gosip?) dari sini. Gile bener, ini mungkin transgender/transeksual paling oke kali ya.

Mari para pria sehat tanpa celana, kita buyarkan fantasi itu jauh-jauh. Tampaknya gua perlu bantuan Rommy Rafael untuk melupakan bayangan gua terhadap Megan Fox. Biarkan gua masuk alam relaksasi jauh lebih dalam, jauh lebih dalam dari sebelumnya…

Tau Megan Fox dong?

Doi adalah pemeran utama wanita dalam film Transformers, yang serial keduanya akan rilis di Indonesia ga lama lagi. Doi belum lama ini juga dinobatkan sebagai wanita paling seksi sedunia-akherat oleh majalah FHM, jauh meninggalkan pesaing-pesaingnya.

Belom lama ini, doi muncul dalam premiere Transformers yang kedua di Berlin. Transformers yang kedua bercerita tentang para Decepticons yang masih dendam karena kekalahan mereka di film yang pertama. Ternyata mereka orangnya dendeman, mirip sama Nyi Pelet. Lalu… AAAHH, who cares tentang cerita film ini!

Balik ke Megan Fox.

Berikut gua posting foto-foto doi pas lagi di premier Transformers 2 di Berlin. Enjoy!

megan fox 1

“Megan busy bangeth. Pokyocknyah gityu deh. It’s so keeewl!”
(updated 24/06/09): anjrit! ini dulunya cowok!)

megan fox 2

Mbak, itu kancing bajunya, eh… ALAMAK.
(updated 24/06/09): anjrit! itu dada cowok!)

megan fox 3

“Selamat datang di KFC. Mau pesen apa, Mas?”
“Saya pesen paha mulusnya dua.”
(updated 24/06/09): anjrit! itu paha cowok!)

megan fox 4

Eh, si Mbak. Tau aja kalo saya lagi ngeliatin. Hehehe
(updated 24/06/09): -masih- anjrit! ini dulunya cowok!)

megan fox 5

Oh, Megan Fox, kau begitu montox dan semox
(updated 24/06/09): anjrit banget! ini dulunya cowok!)

Ciamik banget dah si Megan. Satu pesan saya untuk adinda Megan. Jangan sampai kau menikah dengan sultan dari ngeri Jiran. Nanti disilet-silet dadamu itu. Tapi, kalo pun sampe disilet, bolehlah saya jadi… tim visumnya.

UPDATED 24/06/09: ANJRIT!!! DIA DULUNYA COWOK!!!

Kopitiam Oey? Maknyus!

Posted in hobbies with tags , , on June 19, 2009 by roy saputra

Hai. Salam perut buncit.

Rabu kemarin, gua pergi ke Kopitiam Oey di jalan H. Agus Salim, atau yang lebih dikenal dengan jalan Sabang. Dengan jiwa pewisata kuliner yang masih membara, gua akhirnya menjejakkan kaki di depan Kopitiam Oey.

tampak loear

Dari luar, udah kerasa banget suasana Cina peranakan. Namanya aja Kopitiam Oey. Kopitiam berasal dari kata kafe tien, yang dalam bahasa Hokkian berarti warung kopi. Oey-nya? Wah, jangan tanya saya

Kopitiam Oey ini dibuka pada tanggal 18 Maret 2009 oleh pemiliknya. Siapa? Tak lain dan tak bukan, Bondan Winarno, seorang penikmat kuliner yang terkenal dengan slogan Maknyus-nya.

Kembali ke Kopitiam Oey. Penampakan luar yang begitu jadul membuat gua penasaran dengan bagian dalamnya. Ga sabar pengen masuk.

(suara dari kejauhan)
“Tapi jangan buru-buru keluar ya. Ntar lemes.”

Duh, apaan sih? Ehem. Gua pun masuk.

“Jangan lupa keramas.”

Duuuh. Apaan sih? Ehem, ehem. Gua melangkahkan kaki dan melihat…

tempoe doeloe

Hiasan dinding menjadi sorotan pertama gua. Banyak iklan-iklan jadul yang sengaja dipasang untuk menambah kesan ‘tua’ pada warung kopi ini. Kursi dan meja pun sengaja dipilih yang bernuansa antik.

Belom minum aja, gua udah jatuh cinta sama warung ini.

Dan, makin jatuh cinta setelah gua tau, di sini bisa wi fi-an. Cihuy!

Karena namanya warung kopi, maka menunya didominasi oleh kopi dan teman-temannya. Ada kopi Talua Bukittinggi, Kopi Vietnam, Espresso, atau Cappuccino. Yang serunya, semua kopi dibuat secara handmade!

Yang khas di sini (menurut Mbak-nya) adalah kopi Aceh. Maka lagu Enno Lerian pun bersabda di kepala gua.

Mau minum s’gelas kopi … Aceeeeh
Bukan berarti harus ke… Aceeeeeh
Cukup ada di sini, dekat kita sendiri
Kita tinggal menikmati

Masih dengan jiwa pewisata kuliner, gua pun memesan kopi Aceh… sama kopi saring Vietnam… eh, ini asik nih…. sama French toast… udah kok itu doank, eh ini enak juga nih, hmmm… sama Roti belanda… udah kok, cuman pesen segitu aja! Sumpe deh!

Penasaran sama foto menunya? *kedap-kedip*
Bener penasaran? *angkat-angkat rok*

kopitiam oey maknyus!

Dari pojok kiri atas (searah jarum jam): roti belanda – french toast – kopi aceh – kopi saring vietnam

Selain kopi, ada juga menu-menu makan berat. Seperti gado-gado BonBin, nasi goreng kambing, nasi kluwek, dan lain-lain.

Yang paling menyenangkan tentu saja harga yang sangat bersahabat dengan si dompet.

“Halo, Pet. Apa kabar? Keluarga gimana? Baik?”
“Baik kok. Istrimu apa kabar?”

Oke, bukan bersahabat yang seperti itu maksud gua.

Harga kopinya berkisar antara 8000 sampai 12.000.

“Rupiah?”

Dolar Ruwanda. Ya iya lah, pake rupiah. Hehehe.

Untuk keempat menu yang gua pesan itu, gua hanya menghabiskan 50.000 rupiah saja. Itu pun masih ditambah dengan suasana yang sangat hommy yang bikin gua ga pengen buru-buru pulang.

But, hell, it’s already seven o’clock at night. I had to go home.

Sebelum beranjak pulang, bolehlah gua membuat kesimpulan ini:

Kopitiam Oey? Maknyus!

Sibuknya Para Pekerja Kerah Putih di Pagi Hari

Posted in stories with tags , on June 16, 2009 by roy saputra

Suatu pagi di cubicle suatu kantor di bilangan Sudirman, seorang pegawai teladan baru aja datang dan menyalakan komputernya. Berikut urutan kerja pegawai teladan tersebut di pagi hari. Sungguh jadwal yang sibuk. Perhatikan saja daftar berikut ini.

1. Cek email pribadi

Mencari email-email lucu, atau forwardan email Prita.

Dr. G menyuntik saya. Hiks hiks. Dia menyuntik saya dengan Momogi rasa keju. Untung saya doyan.

2. Bergosip dengan teman sebelah.

Topiknya antara Manohara yang udah tobat ga doyan duit, atau Limbad yang udah berubah jadi kupu-kupu.

“Lho kok bisa?”

Bisa donk. Kan ada lagunya tuh: Persahabatan bagai kepompong, mengubah Limbad menjadi kupu-kupu.

3. Buka Facebook. Update status.

Pegawai teladan yang kebetulan sedang kasmaran ini sedang berpikir enaknya ganti status apa. Hmmm….

sehari tanpamu seperti… tanpamu seharian (lho? sama aja ya. sengaja dibolak-balik. biar ga gosong. lah, emangnya telor dadar? btw, ini tulisan dalam kurungnya kok lebih panjang daripada statusnya sendiri? aaarrgh! eh, mas budi, saya titip nasi padang ya! ga pedes! eh, maap, barusan OB saya lewat. sampe mana tadi? oiya, ini diudahin apa ga ya? titik? apa ga? titik? apa ga? ah, ga aja ah. eh, titik aja deh)

Lalu teman si pegawai yang juga teladan, mengomentari status itu.

buset, ini status apa jembatan suramadu? panjang bener

Teman yang lain, yang tidak kalah teladan, ikut mengomentari.

eh, ntar makan siang dimana nih?

4. Masih buka Facebook. Bales-balesin Wall.

Wall dari Encup

[10.05] Eh, cuy, kemane aja lo? Pa kabar lo?

Dibalas dengan

[10.06] Bae, men! Lo pa kabar? Gimana anak? Sehat?

Dibalas oleh Encup dengan

[10.07] Bae juga nih. Gimana bini? Montok?

Yaelah, CHATTING aja ngapaa?

5. Masih buka Facebook. Nulis notes.

Tahukan kamu? Manohara melaporkan Tengku Fahry ke Mabes Polri. Tebak apa yang akan terjadi? Akankah Tengku Fahry naek Kopaja P19 dan turun di depan Komdak? Ataukah ia tidak akan datang karena ia warga negara Malaysia dan Mabes Polri tidak punya otoritas di sana? Go figure.

6. Masih buka Facebook. Tinggal komputer buat sarapan

“…”

7. Balik dari sarapan. Maen Pet Society di FB

“Ayo, Entong, mandi dulu yaaaa.”

8. Masih buka Facebook. Komenin foto temen

kuda nil

Astagfirullah

9. Kerja (setengah becanda)

“Men, report mingguannya gua emailin ke lu yak! Eh eh, liat nih foto syur Aura Kasih. Hot banget, men! Sekalian gua forward ya ke email lu!”

“Jangan lupa. Ga usah di CC ke bos!”

10. Kerja (setengah lapar)

Dikit-dikit liat jam. Dikit-dikit megangin perut. Dikit-dikit ngiler. Dikit-dikit lirik temen. Dikit-dikit meletin lidah.

11. Makan siang yang diawali dengan kegiatan sujud sukur dan teriak “Akhirnya makan siang jugaaa”

Sungguh kegiatan yang sangat sibuk di pagi hari. Dan hampir setengahnya diakibatkan oleh Facebook. Jadi apakah memang sebaiknya Facebook diharamkan?

“Kalo maen Facebook-nya sambil makan babi… baru haram.”

Cincin itu Terbuat dari Emas

Posted in thoughts with tags , , on June 10, 2009 by roy saputra

*foto dan berita disarikan dari detik.com

Baru-baru ini marak sebuah berita yang mengabarkan bahwa DPR menganggarkan Rp 1.9 milyar untuk membelikan setiap anggotanya sebuah cinderamata.

“Dulu pernah dibahas, berupa cincin emas,” kata anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI dari FPKS, Abdul Hakim.

Menurut berita yang gua dapat, masing-masing anggota akan mendapat cincin emas seberat 10 gram dengan harga Rp 3.500.000. Dan menurut berita yang sama, cinderamata seperti ini memang ada setiap masa jabatan.

kebanjiran

Tapi, keluarga ini masih belum hidup layak, Pak.
Rumah mereka masih kebanjiran, Bu.

kepanasan

Tapi, mereka masih belum bisa sekolah yang layak, Pak.
Sekolah mereka masih rata dengan tanah, Bu.

kemiskinan

Tapi, adik kita ini masih susah cari air bersih, Pak.
Gizi buruk masih menjangkiti mereka, Bu.

Ampun, Pak, Bu. Saya janji deh ga nakal lagi. Tapi boleh ya, kalian bersimpati sedikit? Atas apa yang terjadi kepada rakyat yang seharusnya terwakili olehmu.

Berikut ini adalah potongan wawancara detik.com dengan salah seorang anggota DPR, Alvin Lie.

Sebagian masyarakat menolak program ini lantaran dianggap menghambur-hamburkan uang rakyat?

Semua ada alokasinya. Kalau semuanya ditolak, kita nggak perlu ada pengawasan terhadap presiden. Toh selama ini kita juga terus melaksanakan kewajiban kita meskipun memang ada kekurangan.

Anggaran untuk seorang presiden saja 1 tahun Rp 200 miliar untuk semua kepentingan presiden seperti perjalanan dinas dan sebagainya. Itu cuma untuk satu orang saja. Jadi masyarakat juga perlu tahu. Kalau selalu tidak perlu begini begitu, anggarannya dibagikan ke rakyat, ya kita juga gak usah bikin UU, gak usah bayar pakar untuk proses bikin UU.

Tapi kinerja DPR kan selama ini dianggap buruk, jadi tak pantas mendapatkan cinderamata seperti itu?

Ini  masalah apresiasi saja. Kalau kinerja Dewan tidak bagus memang harus diperbaiki. Tapi kita tidak tinggal diam. Direksi BUMN yang merugi saja dapat bonus gede. Menteri yang kinerjanya tidak jelas dapat cinderamata. Bahkan tidak diketahui oleh publik.

Ooooo. Jadi ini hanya masalah sirik toh?

Beneran deh, gua ga ngerti jalan pikiran mereka. Katanya mereka dewan terhormat. Katanya mereka wakil rakyat.

Cincin itu terbuat dari logam yang mulia.
Tapi hatimu tidak.

Bahaya Laten Bagi Para Pria Indonesia

Posted in stories with tags , , on June 3, 2009 by roy saputra

Alert! Alert!

Alert! Alert!

*bunyi alarm mengaung-ngaung*

Telah terlepas sebuah bahaya laten bagi para pria Indonesia. Setelah sebelumnya terkungkung di luar negri, akhirnya bahaya laten ini sampai juga ke Indonesia.

(suara dari kejauhan)
“Apakah bahaya laten bagi para pria itu? Virus flu babi?”

Ini lebih gawat dari sekedar flu yang menimpamu.

“Ye. Malah ngatain gua babi lagi! Terus apa donk? Penyakit kelamin kah?”

Bukan, ini lebih gawat dari penyakit kelamin. Lebih gawat dari penyakit sifilis.

“Kalo singa raja hutan, Tarzan raja apa?”

Tarzan raja singa (sifilis). Lho, kok jadi maen tebak-tebakan? Pokoknya, bahaya laten yang masuk ke Indonesia ini lebih gawat dari segala macam bentuk cacat duniawi.

Bahaya laten ini bisa membuat para pria terjerembab, lelah hati, dan jatuh miskin. Semua harta bisa habis karena bahaya laten ini.

“Apa sih? Penasaran deh.”

Mau tau? *kedip-kedip*
Beneran, mau tau? *angkat rok dikit-dikit*

trio macan

Trio ini mampu menyedot uangmu sampai ke tulang sumsum. Dapatkan segera di warung terdekat. Dijual terpisah.

Bahaya laten itu adalah Manohara Odilia Pinot, ibunda Deasy Fajarina, dan adeknya itu. Para pria Indonesia kini dalam bahaya besar!

Bagi para orang tua kaya yang punya anak kaya juga, berhati-hatilah. Simpan anakmu dalam laci dan kunci rapat-rapat (emangnya kue jahe?).

Bagi para remaja kaya yang punya orang tua kaya (aduh, ini cuman dibalik-balik aje), waspadalah. Kejahatan bukan timbul hanya karena ada niat pelakunya, tapi karena adanya kesempatan. Maka waspadalah! Waspadalah!

Bagi para jomblo kaya yang rela duitnya diabisin… ya gua sih ga tanggung ya. Paling encok-encok.

Nah, biar lebih asoy, mari kita list siapa aja yang mungkin bakal dijadiin target operasi berikutnya oleh Manohara Odilia Pinot dan ibunya. Yuk mari.

1. Syekh Puji

Syekh-Puji

Kaya, berjenggot, dan tak bermasalah dengan perbedaan umur yang jauh. Dialah, the one and only… Syekh Puji!

Pria berusia 43 tahun, berasal dari Semarang, dan memiliki jangkauan pukulan 170 cm ini (emang petinju?) disinyalir memiliki usaha dengan omset milyaran per bulan. Bikin ngiler bukan?

2. Tukul Arwana

tukul

Pria kelahiran Semarang, 16 Oktober 1963 yang lalu ini diperkirakan sebagai artis terkaya nomor dua setelah Anjasmara. Meski tampang beda jauh, tapi nasib beda dikit. Hehe.

Tukul, yang makin beken lewat acara Empat Mata, mengaku mendepositokan sebagian uangnya. Sebagian lagi dibelikan rumah dan tanah. Selain membeli rumah di kawasan Cipete Utara, Jakarta Selatan, Tukul membangun kos-kosan berlantai dua. Ia pun membangun rumah untuk orangtuanya di Semarang. Tukul mendermakan pula uangnya ke yayasan dan Pondok Istighfar di Semarang.

Tuh kan. Udah tajir, baik pula. Sayang mukanya jelek.

3. Andika Kangen Band

andika kangen band

Menjadi vokalis dari sebuah band yang sedang naik daun, membuat Andika banyak digemari oleh para wanita. Disinyalir Andika Kangen Band menjadi hal yang paling digemari nomor 2 setelah Momogi.

Melejitnya penjualan album Kangen Band juga mendongkrak tingkat ekonomi para personilnya, tak terkecuali Andika ini.

Tapi ngomong-ngomong… Mas, kalo wawancara mbok ya itu kipas anginnya dimatiin dulu. Kan rambutnya jadi ketiup-tiup gitu.

“Itu emang begitu oy!”

Oooo. Kirain. Hehe. *cengar-cengir*

Sementara itu, jauh di Slipi sana.

“Mano, kamu hari ini ada jadwal interview di TV anu ya!”
“Oke. Mommy. Tapi Mommy udah minta deal yang oke kan?”
“Iya dong, Sayang. Semuanya wawancara eksklusif!”
“Duitnya gimana, Mommy?”
“Ya cukuplah buat nambah-nambah beli Jaguar.”
“Ih, asik dong, Mommy.”
“Oiya, besok kamu ada wawancara di majalah ini, radio itu, sama koran anu ya. Jangan lupa dandan.”
“Sip, Mommy. Eh, tapi aku kapan visumnya ya?”
“Ah, itu mah belakangan aja. Ini mumpung lagi rame order. Masa rejeki ditolak? Pamali itu namanya.”

Bu, Bu. Itu bukan pamali. Itu namanya… hmm, pernah denger istilah matre kan?

Dan, gua akan menutup postingan kali ini dengan sebuah peringatan:

Bagi Anda, para pria Indonesia yang waras, waspadalah! Bahaya laten itu sudah ada di dekat Anda!

Waspadalah! Waspadalah!

*postingan ini hanya untuk hiburan semata

Ini Medan, Bung!

Posted in stories with tags , , on June 1, 2009 by roy saputra

*suara om-om iklan TV Media gitu*

Anda merasa bosan? Jenuh dengan kehidupan Anda? Merasa butuh tantangan? Kalau jawaban Anda iya, maka… AHA! Ini yang Anda butuhkan:

angkot medan

Jalan-jalan dengan angkot Medan

Jalan-jalan di Medan kemarin, gua sebut dengan mini backpacker. Itu karena gua nginep gratisan di rumah temen gua, dan kita kemana-mana selalu naik angkot.

Nah, di sinilah dimulainya sebuah cerita.

Naik angkot di Medan itu rasanya NGERI BANGET. Dikit-dikit mau nabrak, dikit-dikit mau ngelindes. Sepertinya ketiga pedal di kaki supir itu pedal gas semua, dan si Supir merasa ada balon di sekeliling mobilnya. Lu kira bom bom car!

Kelakuannya kayak supir metromini di sini… yang notabene memang kebanyakan datangnya dari Medan.

Ini masih mending, di jalan-jalan kota. Yang paling gawat adalah ketika gua naik bus menuju Danau Toba yang merupakan jalan nanjak naik ke gunung.

Sebelum naik bus, seharusnya ada kotak yang bertuliskan: Letakkan nyawa Anda di sini, nanti turun ambil lagi.

Sumpe, syerem bener. Bus yang berisikan 40-an orang itu dibawa bermanuver oleh supir yang sepertinya dilatih menyetir secara khusus oleh Gus Dur. Dia nyalip pas tanjakan aja gitu lho. Nyalip pas belokan aja gitu lho, yang mana sudut pandangnya menjadi sangat minim.

Masih kurang tantangan? Belum cukup menegangkan?

Bayangkan ada jurang di kiri-kanan, yang kalo kita jatuhkan Agnes Monica di sana niscaya akan berubah menjadi Mpok Nori. It’s very frightening!

Kesemuanya itu ditambah dengan para penumpang yang jika ingin berhenti berteriak dengan desibel yang cukup jaya.

“Bang, berhenti!”

Karena asik bermanuver, si Supir ga denger.

“BANG, BERHENTI!”

Masih belum berhenti.

“BERHENTIIIII!” Sambil gedor-gedor jendela.

Di tahap ini, gua sangat berharap bisa menemukan kamera dan Komeng yang berteriak: “Selamat! Anda masuk di acara NGERJAIN ORANG GANTENG.”

Fyyyiiiuuuuh.

Tapi,

Semua itu menyenangkan karena bisa menambah pundi-pundi cerita hidup gua. Meski di beberapa perjalanan gua merasa kangen dengan orang-orang di Jakarta.

Melihat ke luar jendela dan hanya bisa melihat langit Medan. Birunya mungkin sama, aromanya mungkin sama, tapi orang-orang yang dinaunginya yang berbeda.

Dan ketika rasa kangen itu muncul, gua memasang earphone dan memutar sebuah lagu

Jika aku sudah tua nanti
Aku ingin punya yang berarti

Ah, feels like home.

Si Roy Pergi ke Medan

Posted in stories with tags , , on May 27, 2009 by roy saputra

medan, 21 - 25 mei 2009

Kamu bisa mengganti Roy dengan Sarimin dan Medan dengan pasar, untuk mendapatkan sebuah phrase yang sangat terkenal itu.

Anyway,

Tanggal 21-25 Mei kemarin gua melakukan a-getaway-from-routinity ke Medan, Sumatra Utara. Semua itu gara-gara Bondan Prakoso Winarno dan acaranya yang bernama si lumba-lumba Wisata Kuliner.

Gua jadi ngidam pengen wisata kuliner ke Medan. Dan postingan kali ini akan bercerita tentang ngidam yang kesampean itu.

Wisata Kuliner di Medan

Hari pertama, begitu mendarat gua langsung menuju ke Kwetiau Ateng (jalan Sumatra). Kwetiau di sana beda sama yang di Jakarta. Lebih lebar tapi lebih pendek. Udah gitu masaknya pake arang. Rasanya… ANJRIT ENAK BANGET.

Biar makin mantap, gua pesen minum dua sekaligus. Jus terong belanda ama jeruk kitna. Rasanya asem-asem gimanaaa gitu. Tapi seger sih.

(baru mosting hari pertama aja, gua udah ngiler)

Abis makan kwetiau, gua menuju daerah Kampung Keling karena konon katanya sakitnya karena di guna-guna… hmmm, fokus Roy. Karena konon katanya di sana banyak yang jual makanan India.

Di sana gua makan roti cane. Ya, rasanya lumayan lah. Baru keluar dari satu warung makan India, gua langsung menengok ke warung sebelah dan menemukan bahwa di sana menjual makanan dengan nama yang cukup aneh. Mie balap dan es koteng.

Kalo di Jakarta adanya SEkoteng, maka di Medan adanya ESkoteng. Dan rasanya, sumpah, tak terdeskripsikan. Mie balapnya ternyata membuat gua dan temen gua balapan minum aer. PEDES BANGET.

Demi merasakan nikmatnya jadi anak gaul Medan, gua menyempatkan diri untuk mampir ke Sun Plaza. Di sana ngapain? Ya, makan lagi. Hahaha.

Malemnya gua ke Merdeka Walk buat makan dim sum Nelayan. Rasanya yaaaa, lumayan lah.

Hari kedua dan ketiga gua habiskan di Danau Toba dan Pulau Samosir. Makanan di sana ga ada yang istimewa, menurut gua.

Pulang dari Toba, gua mampir ke daerah Golden buat makan bubur babi. Ga selesai sampai di situ, gua makan nasi babi panggang. Ga lupa mesen telor lapciong. Rasanya… ENDANG BAMBANG (baca: enak banget). Biar makin asoy, gua minum martabe, alias perpaduan markisa ama terong belanda. Rasanya… maknyus!

eunak tenan

Masih lapar akan makanan, gua menuju daerah Titi Bobrok buat nyobain Sop Sumsum. Setelah membayar 30.000, apa yang gua dapatkan?

sop sumsum

Kaing… kaing… disangka gua anjing apa?

Itulah dengkul sapi seharga 30.000. Gua cuman bisa nyedot-nyedot dikit bagian dalemnya. Bingung apalagi yang bisa dimakan padahal udah bayar mahal-mahal, hampir aja gua membawa pulang piringnya sebagai souvenir.

Hari keempat, buat sarapan gua makan bubur ayam Cirebon di depan Museum Batak. Ramenya udah kayak apaan tau. Makanya gua penasaran.

Aneh juga ya, gua ke Medan tapi malah makan bubur ayam Cirebon. Biar impas, kalo gua ke Cirebon gua makan Soto Medan dah.

Hari keempat gua lewatin di Brastagi. Di sana makan chinese food yang rasanya standar tapi harganya mahal. Kenapa mahal? Ternyata pelayannya cantik-cantik. Mungkin harga makanannya udah termasuk ongkos buat beli bedak.

Pulang dari Brastagi, gua makan sebuah makanan yang wajib gua coba sebelum pulang: Babi Panggang Karo atau bisa disingkat BPK. Warung makan yang menjual BPK banyak ditemuin di daerah Simpang Pos. Rasanya? EUNAK TENAN.

endang bambang

Dari situ, gua sempet makan es krim Fountain (murah meriah tapi enak) dan lanjut ke jalan Semarang dan Selat Panjang. Di sana udah kayak di Hongkong. Kanan kiri banyak banget warung makan. Tergiur dengan satu warung makan yang rame, akhirnya gua memesan menu utama di sana: Kwetiau khek. Rasanya… NENDANG NAMPOL NONJOK BANTING. Enak bangeeeeeeet.

Di hari kelima, sebelum pulang gua nyobain lagi Soto Medan di jalan Gatot Subroto. Rasanya… SUMPAH ENAK BANGET. Bikin nagih.

nendang abis

Pulang dari Medan, celana gua banyak yang ga muat. Hahaha. Pokoknya makanan di sana cocok banget ama gua. Nyam-nyam.

Ya suw, segitu dulu laporan wisata kuliner gua selama di Medan. Di postingan berikutnya gua akan menceritakan perjalanan ini dari sisi yang lain.

See you, folks! ^^

Interpiu #2 dan, Iya, Saya Akan ke Medan!

Posted in project with tags , , on May 18, 2009 by roy saputra

Setelah kemaren gua diinterpiu oleh adik kelas gua di kampus, kali ini giliran pihak Bukune yang dipaksa, dibujuk, dan diteror beruntung untuk ngeinterpiu gua. Berikut petikan dari interpiu tersebut. Sumbernya dari sini.

doROYmon

Ngobrol [lagi] bareng Roy!

Penulis yang satu ini emang terbilang eksis bikin buku. Pengalamannya yang buanyakkk, bikin ia jadi produktif dalam hal tulis-menulis. Siapa lagi kalo bukan Roy Saputra. Setelah sukses dengan buku pertamanya yang berjudul The Maling of Kolor, kini ia hadir kembali dengan buku keduanya yang berjudul Doroymon.

Yuk, kita ngobrol seru lagi bareng Roy. Berikut adalah wawancaranya.

Hai, Roy. Sibuk apa nih sekarang? (pertanyaan standar, masih sama kayak wawancara buku pertama)

Kerja (jawaban standar, masih sama juga kayak wawancara buku pertama)

Ceritain dikit dong tentang buku Doroymon ini!

Jadi, ceritanya ada seorang cewek yang suka sama cowok. Eh, ternyata cowoknya ini vampir. Eh tunggu, itu mah cerita Twilight ya. Buku Doroymon itu bergenre personal literature (Pelit). Jadi buku ini menceritakan kisah nyata gua selama empat tahun kuliah di Teknik Industri UI.

Kok masih inget cerita selama 4 tahun kuliah? Ditulis dalam diary atau gimana?

Diary masa kuliah gua masukin di satu folder yang bernama ‘Folder Rencana Gila’ bersamaan dengan beberapa file lainnya, seperti ‘10 Langkah Awal jika Alien Study Tour ke Bumi’, dan ‘Budi Anduk For President’. Gak denk, gak ada diary-diary-an. Hehehe. Beberapa kejadian lucu atau yang memorable masih gua inget banget. Tapi ada beberapa cerita juga yang gua konsultasikan dengan beberapa temen.

Apa yang membedakan buku Doroymon ini dengan Pelit-Pelit yang ada sekarang?

Ada dua hal utama yang membedakan Doroymon dengan Pelit yang lain. Satu, alur ceritanya lurus. Satu bab dengan bab lainnya itu saling berhubungan, jadi ngebacanya itu gak bisa loncat-loncat. Dua, buku ini ada soundtrack-nya.

Ceritain dikit dong tentang lagunya! Kenapa mesti pake lagu?

Buku ini menceritakan kisah nyata. Lagu ini ada di dalam kisah nyata itu. Jadi rasanya gak adil dan gak lengkap kalo lagu ini gak dimasukin sebagai unsur penceritaan dari buku ini. Dan, puji Tuhan, respon pembaca terhadap lagunya sampai sejauh ini sangat positif.

Kalo buku pertama kamu kan fiksi tuh, ada kesulitan gak nulis buku bergenre Pelit yang non-fiksi?

Awal-awal sih ada. Selalu ada kecenderungan untuk tergesa-gesa dalam menceritakan karena ini kisah nyata. Tapi setelah baca ulang tulisan draft pertama, gua jadi engeh salahnya dimana aja dan dibenerin deh. Prosesnya terus berulang sampai gua merasa cukup puas dengan draft yang ada.

Apa pendapat teman-teman kuliah kamu soal buku Doroymon ini? Apa mereka gak marah namanya dimasukin ke dalam buku?

Semuanya sangat mendukung selama proses penulisan. Semuanya juga gak sabar menunggu bukunya keluar. Pas udah rilis dan pada baca, respon yang gua dapet sejauh ini sangat memuaskan.

Ada pesen-pesen buat yang udah maupun belum baca Doroymon?

Kalo ini dibilang buku komedi, banyak orang yang gak setuju karena mereka terharu membaca buku ini. Kalo ini dibilang buku drama, banyak orang juga gak setuju karena mereka ngakak baca buku ini. Tapi, rasanya semua setuju kalo buku ini adalah buku persahabatan yang ada tawa, tangis, haru… semuanya jadi satu deh. Makanya, buruan beli! ^^

*foto di atas diambil dalam rangka pembuatan cover Doroymon

Bener-bener banci interview dah gua. Huehehe.

Selain itu, gua dapet wall facebook dari seorang pembaca:

Wall dari Hilda Efrina

Aslm.
Makasih ya Bang Roy buat novel lo. Sumpah, dari seluruh novel yang gw hunting di GM, cuma novel lo yg bener-bener bertemakan persahabatan. Setiap halaman dari novel lo selalu bisa ngebuat gw ketawa ketiwi juga ngakak, tapi di lain halaman juga bisa ngebuat gw jadi termehek-mehek.

Kisah persahabatan yang lo paparin bener-bener ngebuat gw jadi terharu. Kisah waktu kalian saling tolong menolong ngebuatin tugas temen kalian yang padahal baru kalian kenal. Kisah waktu lo kecewa karena lo ngerasa ditinggalin temen-temen lo. Juga kisah haru biru waktu lo berpisah dari temen-temen lo.

Coz sekarang gw juga lagi ngerasain semua perasaan lo pada waktu itu. Semuanya terlalu manis tapi juga terlalu sedih untuk diingat dan dikenang.

Btw, walopun kisah persahabatan gw ga sehebat kisah lo, walopun temen-temen gw bukan sahabat yang sempurna, tapi mereka sahabat terbaik gw dan gw bener-bener bahagia karena udah dianugrahkan Tuhan sahabat seperti mereka.

Dan 1 hal lagi, gw bener-bener sangat tidak menyesal udah ngebeli 2 buah novel lo buat sahabat-sahabat terbaik gw

Makasiiii ya, Hilda! You’re so kind! Gua seneng banget kalo apa yang gua pengen sampein ternyata didapet sama pembaca buku ini. Makasi ya! ^^

On a different topic, pagi tadi gua ditag ama Radit di salah satu notesnya. Notes yang bercerita tentang quarter life crisis. Abis baca notes itu, gua pun hanya bisa bilang:

“Iya, kayaknya gua sedang ngalamin itu.”

Gua sedang bosan dengan kehidupan sosial gua, merasa kesepian, dan kangen dengan masa kuliah/sekolah. Yup, I admit it, I’m having my quarter life crisis.

Itu ditunjukkan dengan beberapa aktivitas gua belakangan ini:

- Lebih sering ngelamun
- Suka chatting dan pasang status fesbuk ga jelas
- Minum Starbucks setengah harga sendirian
- Nge-upload dan ngetag foto-foto lama
- Ngedengerin lagu-lagu jaman 80′an. Men, bahkan gua baru lahir taon 80′an, kok bisa-bisanya gua tau lagu 80′an? Errrrrgggh.

Dan, menurut gua, untuk mengatasi hal itu, gua perlu letupan-letupan kecil dalam hidup ini. Salah satu dari letupan itu adalah ini.

MINI BACKPACK KE MEDAN
21 – 25 Mei 2009

Seorang teman bertanya, kok gua iseng banget ya bekpekeran ke Medan? Gua hanya menjawab:

“I’m just trying to live my life to the fullest”

Dengan siapa gua pergi? Dengan dua orang teman, yang salah satunya adalah Ade Putera. Buat yang udah baca Doroymon, masih inget dengan Ade Putera temen sekos gua kan?

danau toba

Ade: “Roy, di Medan ada lengkeng ga?”