Ini Medan, Bung!
*suara om-om iklan TV Media gitu*
Anda merasa bosan? Jenuh dengan kehidupan Anda? Merasa butuh tantangan? Kalau jawaban Anda iya, maka… AHA! Ini yang Anda butuhkan:

Jalan-jalan dengan angkot Medan
Jalan-jalan di Medan kemarin, gua sebut dengan mini backpacker. Itu karena gua nginep gratisan di rumah temen gua, dan kita kemana-mana selalu naik angkot.
Nah, di sinilah dimulainya sebuah cerita.
Naik angkot di Medan itu rasanya NGERI BANGET. Dikit-dikit mau nabrak, dikit-dikit mau ngelindes. Sepertinya ketiga pedal di kaki supir itu pedal gas semua, dan si Supir merasa ada balon di sekeliling mobilnya. Lu kira bom bom car!
Kelakuannya kayak supir metromini di sini… yang notabene memang kebanyakan datangnya dari Medan.
Ini masih mending, di jalan-jalan kota. Yang paling gawat adalah ketika gua naik bus menuju Danau Toba yang merupakan jalan nanjak naik ke gunung.
Sebelum naik bus, seharusnya ada kotak yang bertuliskan: Letakkan nyawa Anda di sini, nanti turun ambil lagi.
Sumpe, syerem bener. Bus yang berisikan 40-an orang itu dibawa bermanuver oleh supir yang sepertinya dilatih menyetir secara khusus oleh Gus Dur. Dia nyalip pas tanjakan aja gitu lho. Nyalip pas belokan aja gitu lho, yang mana sudut pandangnya menjadi sangat minim.
Masih kurang tantangan? Belum cukup menegangkan?
Bayangkan ada jurang di kiri-kanan, yang kalo kita jatuhkan Agnes Monica di sana niscaya akan berubah menjadi Mpok Nori. It’s very frightening!
Kesemuanya itu ditambah dengan para penumpang yang jika ingin berhenti berteriak dengan desibel yang cukup jaya.
“Bang, berhenti!”
Karena asik bermanuver, si Supir ga denger.
“BANG, BERHENTI!”
Masih belum berhenti.
“BERHENTIIIII!” Sambil gedor-gedor jendela.
Di tahap ini, gua sangat berharap bisa menemukan kamera dan Komeng yang berteriak: “Selamat! Anda masuk di acara NGERJAIN ORANG GANTENG.”
Fyyyiiiuuuuh.
Tapi,
Semua itu menyenangkan karena bisa menambah pundi-pundi cerita hidup gua. Meski di beberapa perjalanan gua merasa kangen dengan orang-orang di Jakarta.
Melihat ke luar jendela dan hanya bisa melihat langit Medan. Birunya mungkin sama, aromanya mungkin sama, tapi orang-orang yang dinaunginya yang berbeda.
Dan ketika rasa kangen itu muncul, gua memasang earphone dan memutar sebuah lagu…
Jika aku sudah tua nanti
Aku ingin punya yang berarti
…
…
Ah, feels like home.
This entry was posted on June 1, 2009 at 1:06 pm and is filed under stories with tags angkot, medan, traveling. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed You can leave a response, or trackback from your own site.
June 2, 2009 at 5:05 am
Hahaha keren banget noh! Sereman mana ma tornado?
June 2, 2009 at 8:10 pm
wah, itu lagunya sapa tuh?
June 2, 2009 at 10:00 pm
waw. serem juga yah kl bringas gitu hahaha.
June 3, 2009 at 6:50 pm
HUAHAHAA..
seperti kata pepatah:
barang siapa yang bisa nyetir dengan selamat di Medan, berarti dia bisa nyetir di seluruh dunia!
HIDUP ANGKOT MEDAN!!!
June 8, 2009 at 4:31 pm
ngakak baca komen diatas, tapi bener juga yak… eh roy ini postingnya masih didunia kan?, jangan2 di dunia laen lagi, gara2 ga selamet naek bis di medan
June 22, 2009 at 3:24 am
dengerin lagunya sambil kentut nggak???
*jorok ah*